Sunah Suka Sakura dot com

Friday, August 13, 2010

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

1. Makan dan Minum dengan Sengaja

Allah ta’ala telah berfirman :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ

“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah : 187).

Dari ayat tersebut bisa dipahami bahwa puasa adalah menahan diri dari makan dan minum. Apabila orang yang berpuasa makan dan minum, berarti ia telah berbuka. Jika ia lakukan dengan sengaja, maka jelas hal ini membatalkan ibadah puasa. Adapun jika seseorang makan dan minum karena tidak sengaja (lupa), maka hal ini tidak membatalkan puasa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه

“Barangsiapa yang berpuasa, kemudian ia lupa makan dan minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan makan dan minum kepadanya” (HR. Al-Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155; ini adalah lafadh Muslim).

2. Muntah dengan Sengaja

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من ذرعه قيء وهو صائم فليس عليه قضاء وإن استقاء فليقض

“Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja dalam keadaan berpuasa, maka tidak ada qadla’ baginya; dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengqadla (puasanya)” (HR. Abu Dawud no. 2380, At-Tirmidzi no. 720, Ibnu Majah no. 1676, dan Ahmad 2/498; ini adalah lafadh Abu Dawud. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud 2/63).

3. Haidl dan Nifas

Apabila wanita kedatangan haidl dan nifas di siang hari bulan Ramadlan, baik di awal maupun di akhir, maka ia harus berbuka (batal puasanya) dan mengqadlanya (menggantinya) di hari lain. Jika ia tetap puasa, maka puasanya tidak sah.[11]

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

تمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين

“Dia (wanita) berdiam diri beberapa malam tidak shalat, dan berbuka puasa Ramadlan (karena haidl), maka inilah kekurangan agamanya” (HR. Muslim 79).

Diriwayatkan dari Mu’adzah ia berkata :

سألت عائشة فقلت ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة فقالت أحرورية أنت قلت لست بحرورية ولكني أسأل قالت كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah. Aku katakan,”Bagaimana dengan wanita haidl, ia mengqadla puasa namun tidak mengqadla shalat?”. Aisyah menjawab,”Apakah kamu seorang Haruriyyah (Khawarij)?”. Aku menjawab,”Aku bukan Haruriyyah, tapi aku sekedar bertanya”. Aisyah berkata,”Kami pernah mengalami begitu. Lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat” (HR. Muslim no. 335).

4. Infus Makanan

Yaitu memasukkan zat-zat makanan ke dalam tubuh seseorang melalui infus sebagai pengganti makan kepada orang yang sakit. Ini termasuk perkara yang membatalkan puasa; karena infus tersebut mengandung zat makanan[12] yang dapat membuat badan tidak lemah sebagaimana keadaan orang yang sehat.

5. Jima’ (Berhubungan Badan).

Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Darari Mudli’ah (2/22) berkata,”Tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa jima’ membatalkan puasa, apabila terjadi dengan sengaja. Apabila terjadi karena lupa, sebagian ulama’ mengkatagorikannya termasuk (dalam hukum) orang yang makan dan minum karena lupa”.

Yang rajih dalam permasalahan ini adalah pendapat yang menyatakan tidak membatalkan puasa (jika jima’ tersebut dilakukan tanpa sengaja/lupa).[13]

Dalil dalam Al-Qur’an terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 187. Adapun kaffaratnya (tebusannya) dijelaskan dalam Sunnah Rasululah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال هلكت يا رسول الله قال وما أهلكك قال وقعت على امرأتي في رمضان قال هل تجد ما تعتق رقبة قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا قال فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا قال لا قال ثم جلس فأتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيه تمر فقال تصدق بهذا قال أفقر منا فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه ثم قال اذهب فأطعمه أهلك

Seseorang pernah datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata,”Aku telah binasa, wahai Rasulullah”. Beliau bertanya,”Apa yang telah membinasakanmu?”. Ia menjawab,”Aku telah menggauli istriku di (siang hari) bulan Ramadlan”. Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu memerdekakan budak?”. Ia menjawab,”Tidak”. Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”. Ia menjawab,”Tidak”. Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?”. Ia menjawab,”Tidak”. Orang itu pun duduk. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dibawakan satu wadah kurma kemudian beliau bersabda,”Sedekahkanlah dengan kurma ini”. Ia berkata,”Kepada orang yang lebih miskin dari kami ? Tidak ada satu keluarga di tempat ini yang lebih membutuhkan daripada kami”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga nampak gigi taringnya. Beliau bersabda,”Ambillah, dan berikanlah sebagai makanan untuk keluargamu” (HR. Al-Bukhari no. 1936, Muslim no. 1111, At-Tirmidzi no. 724, dan lain-lain; ini adalah lafadh Muslim).

6. Niat untuk Membatalkan Puasa.

Jika seseorang berniat dan bertekad untuk membatalkan puasa secara sengaja dan dalam keadaan sadar bahwa ia sedang berpuasa, maka puasanya batal walaupun ia belum makan ataupun minum. Hal itu didasarkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لكل امرئ ما نوى

“Setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan” (HR. Al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, dan yang lainnya).

Ini adalah madzhab Asy-Syafi’i, dhahir madzhab Ahmad (bin Hanbal), Abu Tsaur, Dhahiriyyah, dan Ashhaabur-Ra’yi.[14]

7. Keluar dari Agama Islam (Murtad).

Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu akan hal ini, bahwasannya siapa saja yang murtad dari Islam di tengah ia menjalankan ibadah puasa, maka puasanya itu menjadi rusak dan batal. Ia harus mengqadlanya jika ia kembali memeluk agama Islam. [15]


No comments: